TRADISI NYADRAN MEMPERERAT TALI PERSATUAN & KESATUAN WARGA

Indonesia memang sangat kaya tradisi & budaya, khususnya Desa Bolo. Dini hari tadi tepatnya sekitar pukul 02.00 WIB, Lebih dari 1.000 orang berkumpul di area makam Mbah Bolo untuk mengikuti tradisi nyadran.

Tradisi Nyadran tahunan yang diperingati hari jum’at wage setiap 1 tahun sekali  diantara bulan apit & besar ini telah berlangsung sejak dulu dengan tujuan mengirim do’a untuk leluhur Desa Bolo, yaitu Mbah Bolo kakung, Mbah Bolo Putri, & Mbah Gandring serta ahli kubur para warga.

Acara ini dihadiri oleh H. Wiknyo Utomo selaku kepala Desa beserta perangkatnya, Lembaga Desa, & juga seluruh warga masyarakat Desa Bolo , & sebagian penduduk Desa Bango, karena dulu sebelum adanya jalan deandels (sekarang pantura) wilayah Desa Bango ada yang masuk wilayah Desa Bolo.

Acara dibuka oleh Bapak H. Saniman selaku Sekretaris Desa, dilanjutkan tahlil oleh Modin Murwadi, & Do’a oleh Modin gaul Sukiman, & diakhiri pembagian olahan wedhus kendhit & ketan salak kepada warga.

Wedhus kendit sendiri adalah kambing yang bulu bagian perutnya berwarna putih & bulu lainnya berwarna hitam diolah/dimasak utk dimakan/dibagikan bersama setelah do’a selesai dibaca. Sedangkan ketan salak adalah olahan/masakan ketan yang diberi gula merah sehingga warnanya agak kecoklatan berwarna seperti salak & rasanya gurih & manis.

Yang unik adalah pembagian daging wedhus kendhit yg dinilai warga membawa berkah tersendiri, sehingga warga rela berdesakan berebut agar mendapatkan berkah.

Demikian adat istiadat Nyadran yang setiap tahun dilaksanakan di Desa Bolo.

 

Jadi yang Pertama Berkomentar

Tinggalkan Balasan